Uncategorized

Dear Adek Maba

PicsArt_12-15-11.06.01Sebagai seorang manusia, perasaan menyesal itu selalu ada, dan itu adalah hal yang wajar. ‘Duh kenapa kok kemarin gak lebih rajin ya?’ ‘Duh, harusnya tadi gak usah beli ya!’ Hayoo siapa yang sering begini? Hehe, saya juga kok.

Rrrrr, saya sih biasanya kalau sudah begini, suka menyalahkan diri sendiri, dan mengutuk keadaan. Huft. Tapi di lain hal, saya jadi lebih aware kepada orang lain agar lebih baik dari saya dan tidak mengalami hal yang sama. Saya akan ringan tangan membantu kesulitannya dan menjawab semua kekepoannya, seperti dunia perkuliahan misalnya.

Saya tidak mengatakan menyesal pernah belajar di jurusan dan universitas saya. Tetapi, perasaan tidak puas selalu ada. ‘Kenapa dulu gak begitu?’ ‘Duh kok ya baru sadar sekarang!’ ‘Dulu kemana aja? Ngapain aja?’, dan semacamnya. So, berikut saya jembrengkan poin-poin yang harusnya saya dapatkan lebih baik di kuliahan.

1. Masa Maba
Maba (mahasiswa baru) adalah masa-masa adaptasi di dunia kampus, sekalian adaptasi dengan tempat tinggal bagi perantau. Masa maba ini adalah masa cupu-cupunya. Biasanya, daur hidupnya hanya berkutat di kampus-kos kosan/asrama. Tapi ada juga kok maba yang mulai gercep ikut berbagai aktivitas organisasi di kampus.

Nah di masa ini, saya sarankan kalian untuk mulai membuat life mapping. Life mapping ini harus jelas dan spesifik. Semester berapa harus ngapain aja. Karena masih maba dan kebanyakan gak tau apa-apa, saran saya dekati kakak tingkat yang sudah di tingkat akhir atau bahkan yang sudah lulus. Minta wejangan ke mereka, biar gak jadi mahasiswa kupu-kupu atau kura-kura!

Saya kasih gambaran ya…..
Di semester 1-2 pelajaran masih gampang. So sebisa mungkin belajar yang rajin dan dapatkan IPK terbaikmu. Kalau bisa cumlaude,kenapa engga? Ya kan? Menabung ipk ini juga untuk jaga-jaga di semester selanjutnya kalau ada jebloknya..

Ikut organisasi juga penting banget. Cobalah ikuti aja segala magang kerja yang ada. BEM, ormawa fakultas, ataupun ormawa universitas, coba aja semua. Lalu tentukan di tempat mana kalian bisa berkembang. Nah kalau merasa di satu organisasi tidak nyaman, jangan ragu untuk meninggalkan. Tapi carilah pengganti, yang membuat kalian bisa berkembang maksimal,
Sedari Maba tentukan kalian ingin menjadi mahasiswa seperti apa. Mahasista aktivis kah, mahasiswa berprestasi kah, atau mau ikut exchange. Tentukan dulu. Dengan menentukan pilihan , kalian akan mempermudah untuk mengambil langkah selanjutnya.

Oh ya, selama.kalian jadi mahasiswa, manfaatkan betul waktu dan status kalian. No excuse untuk bermalas-malasan apalagi jadi mahasiswa kupu-kupu. Inget perjuangan masuk kuliah dulu bagaimana. Edeg degan dan seberharap apa kalian bisa lolos dan diterima. Atau yang harus berjuang di SBMPTN dan Mandiri. Ingat ingat perjuangan orang tua yang susah kerja buat bayar ujt. Ingat lagi berapa orang yang gagal gak bisa kuliah entah karena gak ada biaya atau kesempatan diterima .

Ormawa, yay or nay?
Buat saya: BIG YAY yhaaa. Meskipun cuma butiran debu, saya masih ikut ormawa di jurusan dan universitas. Ini yang agak saya sesali. Huhu.

Ada yang bilang ormawa bikin keteteran? HAHA, dia aja kali yang gak bisa atur waktu. Teman-teman, kakak tingkat, maupun adek tingkat saya banyak banget yang bisa balance kuliah dan organisasinya. Ada juga yang bisa save cumlaude, meskipun dia memegang dua amanah di organisasi yang berbeda.

Saya punya alasan kenapa bilang ormawa itu penting:

1. Ormawa itu melatih softskill macam bertanggung jawab, kerja sama, toleransi, manajemen waktu, kerja keras, percaya diri dan komunikasi. Percayalah ini yang membuat mahasiswa berbeda dengan yang lainnya, dan sangat dibutuhkan di dunia kerja.

2. Menambah ilmu
Ilmu apapun. Baik itu akademis maupun non akademis. Misal nih ikut ormawa seni atau pengembangan diri yang lain. Pokoknya kalau kalian udah nyemplung di ormawa itu, bener-bener maksimalkan ilmu yang kalian bisa dapatkan.

3. Menambah relasi
Wah ini super penting sih. Biar lingkaran pertemanan kalian gak cuma teman seangkatan aja. Percayalah banyak teman itu banyak rezeki. Hehe. Manfaat pertemanan ini bisa jadi membuka banyak kesempatan lainnya. Misal nih, saya jadi tahu ada beasiswa juga dari temen saya di organisasi. Atau, mungkin pekerjaan pertama kalian berasal dari informasi teman satu organisasi.

4. Meramikan pengalamam di CV
Nah ini so penting ya. CV ini super penting untuk melamar beasiswa maupun kerja. Dengan mengikuti organisasi akan menambah pengalaman kerja di CV. CV Pun jadi ‘wow’ karena pengalaman organisasi. Nah, saya apunya pengalaman menyedihkan terkaiy hal ini. Saya jadi kalah saat apply beasiswa karya salemba empat, gegara pengelaman orgasasi saya kalah sama teman. Huhu.

So, intinya organisasi itu penting. Dan jadilah ‘seseorang’ di organisasi itu. Kalau kalian bisa jadi inisiator, ya why not? It’s much better than just follower right?

Selanjutnya adalah menjadi panitia. Panitia apapun, baik itu lomba, atau acara yang lainnya. Slogan secapek capeknya peserta, pasti lebih capek panitia itu benar adanya.

Jadi panitia memang (((super))) capek. Gak dibayar. Eh dibayar ding, cuma dengan sertifikat yang nilai skpnya dikit banget. Rasanya kok ya gak sepadan dengan lelah yang dikeluarkan. Wkwk.

Tapiiiii, bukan itu poinnya. Back to the CV, dengan kalian menjadi panitia, ini akan penambah pengalaman kerja kalian, selain organisasi. Nah di kampus tuh banyaaak banget acara kepanitiaan. Ikuti aja semua, asal gak keteteran. Hehe.

Sepertinya kegagalan saya di beasiswa kse ini juga karena kurang pengalaman jadi panitia. Wkwk

Nah poin ini adalah idola kita semua. Siapa sih yang gak suka dapat beasiswa? Kok kayaknya semua mahasiswa pengennya dapet beasiswa ya?

Tapiiii, pada tau caranya gak?

Beasiswa ini buanyaak macemnya ya kalo di PTN, (entah kalau di PTS), hehe. Ada yang dari BUMN, perusahaan swasta, maupun Kemenristek. Kalian rajin-rajin aja pantengin web kemahasiswaan kampus, atau broadcastan dari oa bem fakultas maupun oa hima. Nah, kalau di fakultas saya, Sains Dan Teknologi Unair ada tuh cabang BEM yang di mengurusi beasiswa, namanya kesmas (kesejahteraan mahasiswa).

Tapi saran saya sih, sedari maba, sudah cari-cari info untuk beasiswa mana yang berpeluang diambil. Oiya, saya dulu pernah dapat beasiswa PPA (peningkatan prestasi akademik) dari Kemenristek Dikti di tahun 2016. Nah, karena kecanduan beasiswa, saya cari-cari lagi dan dapat beasiswa pelayanan kasih AA Rahmat di tahun 2017. Syaratnya apa? Cuma IPK yang angkanya tiga koma.

Kuylah, cus berburu beasiswa. Ini adalah kenikmatan haqiqi dari status mahasiswa. Banyak banget macam beasiswa. Kalau yang cuma modal IPK, yaa dua itu. Tapi ada juga besiswa santri, penghafal Al Quran, beasiswa aktifis, dan lain sebagainya..

IPK (indeks lrestasi komulatif) harus cumlaude? Wah gak juga menurut saya. Tapi kalau bisa dan harus bisa adalah diatas tiga. Tapi kalau dapat diatas tiga koma lima, ya kenapa engga?

Di dunia kerja, IPK bukanlah segalanya. IPK ini macem penilaian akademik selama kuliah. Diatas 3.5 luar biasa. Ini nih yang belajarnya siang malam, dan kalo kuliah duduknya paling depan. Haha. Diatas 3 adalah poin aman. Diusahain diatas 3 lah pokoknya! Nah kalo di bawah 3 ini yang agak warning.

Dunia kerja memang lebih melihat pengalaman daripada IPK. So, ipk mu Harus diatas 3 lah biar aman. Kalo lebih dari itu? Yaaa gapapa. IPK tinggi itu bisa jadi modal buat cari beasiswa. Haha.

Haha. Saya cuma ketawa mengenang masa skripsi ini. Yang masyaAllah nano-nano sekali rasanya. Mendebarkan dah macam naik roller coaster aja.

Skripsi ini sudah pasti dilewati semua mahasiswa kalo mau lulus kuliah yaaa.. Kalo gamau skripsi, berarti GAK MAU LULUS. Hmmm.. Nah tapi kalian bisa memilih skripsi ini dengan jalan menyenangkan atau tragis yaa. Hehe.

Jalan menyenangkan disini adalah, kaliah sudah riset topik di semester 6. So no gupuh-gupuh club pas proposal semester 7. Teman saya banyak nih yang curi start dari semester 6. Lah saya yang nyantai-nyantai aja jadi super pusing pas semester 7. Saran saya, dari semester 6, dekati dosen. Cari dosen yang menyenangkan dan booking dulu doi.
‘Pak/Bu saya mau nanti skripsinya sama bapak/ibu’. Sapa tau juga doi punya proyek penelitian kan? So, no worry about topic, money, and publication. Skripsi kalian akan aman terkendali kalo udah pegang proyek dosen.

Nah ini adalah mimpi saya banget sedari maba yang alhamdulillah kesampean. Kalo kalian punya mimpi yang sama, buruan tentukan kalian mau exchange lewat jalur mana: akademik (ikut konferensi, ikut lomba), cultural (menampilkan kesenian daerah), volunteer, religi (macem MTQ, atau konferen yang islami), atau outbond (cultural trip). Nah pilihlah yang ‘kalian banget’.

Oh iya, exchange ini ada yg long course (1-6 bulan) dan short course (hari-minggu). Tentukan yang paling sesuai kemampuan kalian yaaa…